Subscribe MataKaki.com

Masukan Email Untuk Mendapatkan Konten Gratis dari MataKaki.com

Sepotong Cerita di National Camp Gerakan Mari Berbagi 2016 Part 1

Kamilah Pemuda dari penjuru Nusantara, Hendak Berbagi Cinta. Mencari Jati Diri Wujudkan Pribadi Yang Utuh, Bercita Cita Mulia, Dari sabang Sampai Merauke Kita Saling Berbagi Cerita….

Cuplikan kata kata indah diatas masih membekas kuat dalam ingatanku, kata kata yang tak lain adalah potongan dari  lirik lagu berjudul “mari berbagi”. Sebuah lagu yang saat itu belum mampu kuingat sempurna, ditemani oleh dua orang laki laki tak biasa. Mereka adalah Rifqi Maulana Malik dan Bagus Anugerah Yoga. Ya, mereka adalah rekan baru ku dalam perjalanan penuh cerita berikutnya, ini masih sepotong cerita yang tak utuh.

Hari itu tepatnya 22 Juli 2016 pagi, kami bertiga dilengkapi dengan ransel dipunggung sudah standby  menunggu di Stasiun Kereta Depok dan sedang menanti commuter line menuju arah bogor, suatu tempat dimana inti dari tulisan ini, potongan utuh dari cerita ini ada di Kota itu, kota hujan yang sungguh ingin kukunjungi lagi. Sedikit kuberbagi cerita, ini adalah kali pertama aku merasakan naik KRL Jabodetabek sebanjang aku menghirup nafas.

Tampak dari kami bertiga sungguh bersemangat pagi itu, belum lagi karena kami sedang menanti rombongan lain, mereka memiliki status yang sama seperti kami bertiga, sama sama peserta National Camp yang sama pentingya. mereka berangkat melalui stasiun Universitas Pancasila, dalam rombongan itu ada Risty, Rahma dan teman teman lainnya yang tak kuingat sempurna siapa lagi yang ikut disana. Mereka menginap di Kost milik risty, risty sendiri adalah Mahasiswa Universitas Pancasila.

Beda halnya dengan kami rombongan para jejaka. Bagus meminjamkan kami kamar kost yang tak terisi di kost tempat ia tinggal. Bagus adalah mahasiswa Universitas Indonesia yang mengambil konsentrasi Sastra Belanda di kampus tersebut, aslinya dia adalah orang bontang, kalimantan Timur. Bagiku, Lengkap sudah perjalanan ini, ada yang dari Sulawesi, kalimantan dan dari provinsi Aceh ada Aku, rahma dan Rifqi yang tiba semalam sebelumnya di Kota Depok ini. kami datang membawa semangat dari Pulau Sumatera. Oh tidak, ada satu cerita yang terlupa, Deni, siapa itu deni akan kuceritakan pula dalam kisah ini. Kisahnya menjadi penting, karena setelah rifqi, Deni lah yang kisah pertemuan kami cukup unik dalam cerita ini. Aku tak beberkan semua kisahnya dulu di sini.

Kami tiba di stasiun Depok setelah menembus jalan jalan kecil yang tak jauh dari Kampus Universitas Indonesia, hari itu, lengkap sudah setelan kami untuk disebut sebagai calon petualang, apalagi rifqi dan bagus yang memang sudah memperiapkan perlengkapan dengan sangat baik, ah tapi jangan tanya padaku. Aku hanya membawa tas kecil berisi perlengkapan seadanya, ditemani 1 buah dus berukuran sedang berisi bubuk kopi arabika gayo yang rencana akan kuhadiahkan kepada orang orang istimewa yang kutemui. Oh ya ada satu lagi, sebuah botol minuman yang dipinjamkan bagus padaku, benda itu terus melekat ditanganku dan menjadi milikku selama di Bogor.

Skip Skip

Tak kuingat dengan pasti, kereta tujuan bogor sudah merapat di stasiun depok dan tanpa menunggu waktu yang lama kami bergegas masuk ke gerbong tersebut serta berusaha menemukan rombongan risty dan kawan kawan disana, percapakan pertama pun dimulai. Tak salah lagi, orang orang terpilih ini sungguh ramah dan asik diajak ngobrol. Ya, kami cepat akrab seolah sudah pernah bertemu sebelumnya, kuhadiahi mereka gelang kerawang gayo yang memang sudah kupersiapkan dari tempat tinggalku, satu seorang pilih warna dan ukuran yang paling kalian suka kataku.

Tiba di Stasiun Bogor, Bertemu Calon Pemuka Pemuda Indonesia

Finally, titik yang ditentukan oleh Volunter National Camp tahun ini ada dua yakni stasiun bogor dan terminal bogor, namun tampaknya dari kesan pertama yang kulihat hampir seluruh peserta memilih titik kumpul di stasiun bogor dan hanya sebagian kecil yang memilih titik kumpul terminal bogor. Ini hanyalah titik kumpul karena lokasi kegiatan utama berada di Ciawi, duh bagaimanakah rasanya ditempat itu, aku langsung terbayang apakah dinginya sama dengan kota tempat aku tinggal, Takengon Aceh Tengah yang orang kenal dengan sebutan Negeri diatas Awan.

Tak sulit menemukan calon pemuka pemuda di Stasiun ini, ciri cirinya tak lain adalah anak muda, beramai ramai, ada tumpuka ransel yang sangat mustahil disebut ketidaksengajaan, itu pasti mereka sebut kami sesaat menemukan rombongan lain. Mereka adalah orang terpilih yang diundang mengikuti National Camp GMB 2016.

Sama mudahnya berkenalan dan bergaul dengan mereka yang awalnya tak terlintas dipikiranku akan keramahan mereka, cukup senang batinku saat menyapa mereka satu persatu sebab diantaranya ada yang memang sudah “agak mengenal” dari komunikasi kami sebelumnya via Group Whatapss. “bang ara, mana kopi gayonya” papar mereka satu persatu yang aku sendiri tak ingat pasti siapa saja yang berujar seperti itu.

Tak lama kemudian, volunteer GMB membagi kelompok kami untuk ditempatkan pada angkot mana kami akan dinaikkan menuju ke tempat perkemahan, tak salah lagi. Tempat itu adalah puncak Ciawi, yang baru kutahu saat tiba disana. Sejauh ini, potongan ceritaku hendak menemukan intinya.

Jeda Pariwara

Photo ini adalah salah satu kegiatan di GMB, karena sepanjang perjalanan dari Depok ke Bogor tak ada satupun koleksi photo milik kami, aku tambahkan saja ini dulu untuk mengisi kekosongan cerita di post ini, pada part II akan lebih banyak photo yang bercerita. Lanjutkan membaca, gambar ini sebetulnya kami jepret di luar agenda GMB meskipun dengan orang yang sama.

 

Dalam Perjalanan ke Ciawi

Sedikit kurenungi perjalanan ini, aku tau pasti bagaimana proses yang kulewati sebelum mendapatkan tiket menjadi peserta National Camp ini, suatu ajang tiketnya diberikan kepada 131 orang terpilih dari ratusan entah ribuan peserta yang mendaftar di websites www.g-mb.org kala itu. Tiket yang semestinya tidak berhenti sampai disini, karena jumlah tersebut akan dipesempit lagi menjadi 50 orang untuk mengukti Youth Adventure dan Youth Leader Forum *akan kuceritakan di sesi terpisah. Bukan bagaimana perasaanku hari ini yang terbayang kala itu, tapi wajah orang orang yang mendukungku untuk sampai pada tahap ini, mereka adalah orang tua dan sahabat sahabatku yang tau pasti mengapa aku hendak bergabung dengan GMB.

Lamunanku kadang terjaga lagi, karena panasnya udara selama perjalanan ditambah aktifnya percakapan dari teman sekolompok angkotku yang keramah tamahannya begitu melekat. Petualangan ini baru dimulai. Aku melihat cerita ini sudah mencapai lebih dari 800 karakter, sehingga menjadi tidak indah kalau kuselesaikan cerita ini dalam satu bagian, bagian inti dari cerita ini baru akan kubagikan paling tidak esok hari.

Bersambung ke Part II

Takengon, 28 Maret 2017

HADHARA RIZKA Tuan Rumah Matakaki.com Travel Blogger Indonesia

Post Author
Hadhara Rizka
Hadhara Rizka, Blogger Asal Dataran Tinggi Gayo Takengon yang merupakan salah satu daerah penghasil Kopi Berkualitas Dunia. Bermimpi Keliling Dunia dan tertarik pada dunia Internet Marketing dan Wirausaha Sosial

Comments

2 Comments
  1. posted by
    tukang jalan jajan
    Mar 29, 2017 Reply

    Salut buat pemuda yang terus mengisi dengan aktfitas yang “bergizi” seperti ini. sungguh menarik dan penuh ilmu

    • posted by
      Hadhara Rizka
      Mar 29, 2017 Reply

      Kata teman teman, tiada rasa tualang yang lebih seru, selain tualang dan berbagi. Hehe

Tinggalkan Balasan

Gallery Tuan Rumah Mata Kaki

Saksikan Dengan Mata, Jejaki dengan Kaki. Angkat Ransel, Kencangkan Tali Sepatu dan Berpetualanglah. Gallery saya, Hadhara Rizka di Instagram. Tidak banyak yang menarik, hanya meninggalkan jejak kaki sebelum hari tua nanti.

Join to Instagram
MataKaki.com | Travel Blogger Indonesia