Subscribe MataKaki.com

Masukan Email Untuk Mendapatkan Konten Gratis dari MataKaki.com

Sepaket Cerita Pejalanan di Kota Raflesia Bengkulu

Mulai dari Pantai Panjang, Fort Marlborough, Rumah Pengasingan Soekarno, Rumah Ibu Fatmawati hingga Kampung Melayu yang tak akan habis terceritakan.

Merasa beruntung rasanya bisa menjekkan kaki di Bumi Raflesia ini, sebab menjadi tak lengkap jejak perjalananku sebelum kota ini masuk dalam daftar kunjunganku. Sebuah perjalanan yang tak lain kusebut sebagai hadiah, dikatakan begitu karena perjalanan ini sendiri dibiayai oleh kampus tempat aku menyengam pendidikan, STAIN Gajah Putih Takengon, Aceh.

Siapa yang tak senang dihadiahi perjalanan gratis, diberikan sedikit uang saku lagi. Tapi bukan disitu inti cerita perjalanan ini yang membuatnya tak layak untuk ditimbun begitu saja, ada sepaket cerita cerita berkesan di Kota yang terkenal sebagai kota sejarah ini, kota kelahiran ibu fatmawati serta jejak perjalanan sang proklamator Republik Indonesia.

Aku bersama andi, lia dan lulu yang merupakan utusan kampus menuju Perkemahan Wirakarya Nasional Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri(2014) adalah anggota pramuka dari STAIN Gajah Putih Takengon yang diberi kesempatan pada event akbar ini bersama ribuan peserta lainnya dari seluruh penjuru Indonesia. Meski tak mengimkan team lengkap dan menjadi kontingen tak lengkap pada event ini, justru disanalah titik cerita menarik di kota tersebut menjadi asik, karena kami berhak memilih sendiri rangkaian kegiatan mana saja yang hendak kami ikuti. Wajarlah, kami merupakan kontingan dari kampus tersebut karena baru saja berstatus Perguruan Tingga Agama Islam Negeri.

Dari Takengon Ke Kuala Namu Medan

Menuju Bumi Perkemahan IAIN Bengkulu, kami serombongan yang juga ditemani oleh dua orang dosen pembimbing menggunakan Jalur Bandara Kuala Namu Medan, setelah sebelumnya menempuh perjalanan darat dari Kota Takengon kurang lebih 12 jam. Sudah layak tulang kami pada rontok sempurna diguncang bus yang melewati jalanan berlubang kala itu. Tidak langsung ke Bengkulu, karena pesawat yang kami tumpangi harus transit 2 jam di Hang Nadim Air Port, Batam Kepulauan Riau

Tiba di Bengkulu Saat Mentari Berlalu

Sempat delay beberapa saat hingga baru tiba di Bandara Fatmawati sekitar jam setengah delapan malam, tak menunggu lama segera seluruh perlengkapan berkemah kami pindahkan dari tempat pengambilan bagasi dan ke mobil penjemputan yang telah disediakan oleh panitia, kami mengendarai roda empat ke Bumi Perkemahan IAIN Bengkulu.

Bermalam di Gedung Kampus

Hampir tengah malam baru mencapai lokasi bumi perkemahan dan harus melakukan registrasi ulang, mengisi banyak sekali formulir kegiatan untuk mengambil beberapa atribut seperti slayer, pakaian lapangan. Meski perjalananan ini sedikit melelahkan, tapi tidak untukku yang sulit merasakan kantuk waktu itu, bisa jadi karena kota ini memiliki udara yang cukup panas. Sudah tengah malam, tak efektif rasanya untuk segera mendirikan tenda, kami memilih untuk bermalam di gedung kampus IAIN bengkulu dan baru mendirikan tenda keesokan harinya, tepat saat upacara pembukaan juga berlangsung. Tak sabar meneriakkan salam pramuka seperti yang kulakukan di perkemahan pramuka nasional sebelumnya.

Kegiatan di PWN PTAI

Kegiatan utama pada perkemahan ini adalah kegiatan bakti, namanya juga wirakarya. Namun ada juga kegiatan pelatihan keterampilan, kegiatan wisata, kegiatan perlombaan, kegiatan kebudayaan dan masih banyak sekali rangkaian kegiatan yang tiada hentinya, jika malam telah tiba, kedai pramuka serta malam pertunjukan seni menjadi paling ramai untuk dikunjungi karena semua peserta dari semua kampus yang hadir menunjukan kebolehananya diatas panggung.

Homestay Kampung Melayu

Meskipun sejatinya bernama kampung melayu, sebetulnya adalah salah satu nama Kecamatan di Kota Bengkulu. Tinggal bersama penduduk di Kampung Melayu yang juga termasuk dalam kegiatan PWN PTAI inilah salah satu kegiatan yang kusuka, saat itu Aku sendiri ditempatkan tepat dirumah Pak RT disalah satu desa di kampung melayu tersebut, Aku dari Kota Takengon Aceh serumah dengan dua orang rekanku Aan dari Kota Palu, Sulawesi Selatan dan Febri Andi dari Kota Pekanbaru, Riau.

Di kampug melayu kami melakukan rutinitas bakti seperti membuat parit, membersihkan kantor lurah, memperbaiki pos jaga, menghibur warga serta mengenal culturu yang ada di kota bengkulu. Desa ini dipilih karena menurut panitia cukup nyaman untuk ditinggali, serta keanekaragaman sukunya begitu banyak dan masyakatnya hidup dengan indahnya perbedaan. Ada suku minang, bugis dan lain sebagainya.

Kabur dari Homestay

Tak patut ditiru sebetulnya, melarikan diri tanpa izin dari panitia untuk berwisata keliling kota bengkulu ini sepertinya melanggar aturan yang telah ditentukan oleh panitia, pun demikian karena tanggung jawab kami selama di Homestay dikategorikan sudah selesai, warga disana berinisiatif mengajak kami berkeliling menikmati kota bengkulu, wah senangnya.

Tempat Kabur Pertama, Benteng Marlborough

Sampai sekarang lidahku tak pernah tepat mengucapkan kata “Marlborough” sebuah benteng terbesar di Asia yang notabenenya merupakan peninggalan Pemerintah Inggris, pada saat penjajahan beberapa tahun silam, benteng yang mulanya merupakan sebagai pertahanan, seiring perubahan waktu beralih menjadi tempat perdagangan. Sisi unik yang kusuka pada benteng ini adalah karena masih berbentuk asli dan belum mengalami renovasi, sehingga berlama lama disana bisa membayangkan fenomena di masa lalu. Benteng yang kini menjadi destinasi wisata dan tempat penelitian ini kian apik karena berada tepat di dekat pantai bengkulu.

Pantai Panjang, Rumah Pengasingan Bung Karno, Rumah Ibu Fatmawati

Destinasi lain yang tak kalah penting dalam perjalanan ini, mungkin dapat kukatakan, saat itu hanya pulau tikus yang tak sempat untuk kujejaki di kota bengkulu, hanya saja karena beberapa file photo yang tak sempat ku unggah ke sosial media raib sudah karena laptop lama tempat aku menyimpan data dalam kondisi tak sehat.

Pantai Panjang, Rumah Pengasingan Bung Karno dan Ibu Fatmawati ku jelajahi dalam kunjungan yang resmi nan legal bersama peserta dan panitia PWN PTAIN bengkulu, tidak secara kabur ke Benteng Inggris nan megah itu. Semua itu, karena kutau tak ada jatah wisata dalam paketku untuk mengunjunginya.

Sampai pada inti cerita, moment terbaik selama perjalanan ke kota raflesia ini bukan dari seberapa banyak destinasi yang kutemui, seberapa banyak orang yang kutemui serta seberapa kusuka oleh oleh dari kota ini. Namun, di Kota ini, aku menemukan orang orang baik yang terus kuingat sampai sekarang, karena hakitat perjalanan bukanlah seberapa jauh perjalanan itu sendiri, namun perjalanan dan kenangan yang ada didalamnya. Kelak, bengkulu akan kembali ku kunjungi.

Kisah Perjalanan Tahun Dua Ribu Empat Belas yang baru Kutulikan di Kisah Travel Blogger Indonesia

 

Post Author
Hadhara Rizka
Hadhara Rizka, Blogger Asal Dataran Tinggi Gayo Takengon yang merupakan salah satu daerah penghasil Kopi Berkualitas Dunia. Bermimpi Keliling Dunia dan tertarik pada dunia Internet Marketing dan Wirausaha Sosial

Tinggalkan Balasan

Gallery Tuan Rumah Mata Kaki

Saksikan Dengan Mata, Jejaki dengan Kaki. Angkat Ransel, Kencangkan Tali Sepatu dan Berpetualanglah. Gallery saya, Hadhara Rizka di Instagram. Tidak banyak yang menarik, hanya meninggalkan jejak kaki sebelum hari tua nanti.

Join to Instagram
MataKaki.com | Travel Blogger Indonesia